WALHI secara aktif mengawal hak-hak nelayan kecil yang terdampak langsung oleh adanya ekspansi migas nasional di kawasan perairan Jawa-Madura. Proyek-proyek migas skala besar seringkali membatasi ruang tangkap nelayan tradisional, menyebabkan penurunan drastis pada hasil tangkapan dan mengganggu ekosistem laut yang menjadi sumber penghidupan mereka. Melalui pendampingan di lapangan, WALHI memastikan suara nelayan terdengar di meja perundingan dengan pihak perusahaan maupun pemerintah. Fokus utamanya adalah memastikan adanya kompensasi yang adil dan pemulihan wilayah tangkap agar hak-hak dasar para nelayan kecil tidak terabaikan oleh proyek-proyek raksasa.
Tantangan utama yang dihadapi adalah ketimpangan posisi tawar antara masyarakat nelayan kecil dan perusahaan migas yang memiliki dukungan modal serta politik yang kuat. Seringkali, pemetaan wilayah kerja migas dilakukan tanpa persetujuan yang bermakna dari komunitas yang akan kehilangan mata pencahariannya. Jika dibandingkan dengan keuntungan yang dijanjikan dari sektor energi, dampak sosial dan lingkungan yang ditimbulkan bagi nelayan seringkali tidak mendapatkan perhatian yang sepadan. Oleh karena itu, WALHI terus mendesak agar setiap kegiatan eksplorasi energi harus didahului dengan pengakuan atas hak wilayah tangkap nelayan dan tidak boleh merusak terumbu karang yang menjadi habitat ikan.
Pemerintah bertanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap kegiatan ekonomi di laut tidak meminggirkan warga lokal yang sudah bergantung pada laut secara turun-temurun. Dalam konteks perlindungan hak nelayan, keterlibatan WALHI menjadi pengingat akan pentingnya regulasi yang memprioritaskan masyarakat pesisir. Dengan dukungan pengawalan hukum, diharapkan nelayan tidak lagi menjadi korban dari kebijakan energi yang tidak inklusif. Hal ini bertujuan untuk mencapai keseimbangan di mana energi tetap terkelola dengan baik, namun kesejahteraan dan ruang hidup nelayan tradisional tetap terjaga, memberikan jaminan masa depan bagi keluarga-keluarga nelayan di wilayah Jawa-Madura.
Dukungan dari gerakan nelayan terhadap advokasi nelayan tradisional ini sangat kuat karena dirasakan langsung manfaatnya dalam memperkuat posisi tawar mereka. Banyak tokoh masyarakat nelayan berpendapat bahwa pendampingan oleh WALHI adalah benteng pertahanan bagi kedaulatan ekonomi pesisir. Dukungan ini muncul karena kesadaran bahwa tanpa perlindungan yang serius, profesi nelayan akan terancam punah. Dengan sinergi yang terus terjaga, diharapkan suara para nelayan dapat menjadi pertimbangan utama dalam setiap pengambilan keputusan terkait alokasi ruang laut, sehingga keadilan sosial bagi nelayan dapat benar-benar diwujudkan di lapangan.
Implementasi pendampingan ini dilakukan melalui pengorganisasian komunitas nelayan untuk memperkuat posisi tawar dalam forum musyawarah. Contoh konkretnya adalah keberhasilan nelayan dalam memperjuangkan hak akses di zona-zona yang sebelumnya dilarang oleh perusahaan migas. Dengan merujuk pada kebijakan laut adil yang diperjuangkan, WALHI berharap pola hubungan antara perusahaan dan masyarakat nelayan menjadi lebih manusiawi dan setara. Dampaknya adalah peningkatan kesejahteraan nelayan yang lebih stabil, memberikan bukti bahwa perjuangan kolektif dapat menciptakan perubahan besar bagi perlindungan hak asasi nelayan di tengah gempuran proyek migas yang masif.
Sebagai kesimpulan, mengawal hak nelayan di tengah ekspansi migas adalah perjuangan demi menjaga kedaulatan laut bagi mereka yang berhak. Sangat penting bagi kita untuk terus mendukung upaya WALHI dalam menjembatani kepentingan nelayan dengan kebijakan energi nasional. Dengan persatuan dan semangat yang kuat, kita optimis bahwa hak-hak nelayan akan tetap terlindungi dan ruang tangkap mereka terjaga. Mari kita dukung penuh gerakan ini agar nelayan tradisional dapat terus melaut dengan sejahtera dan laut kita tetap lestari sebagai warisan bagi generasi mendatang yang harus kita jaga bersama.

